Samosir memberi lebih kepada mereka yang mau sedikit belajar dulu. Pemandangannya berbicara sendiri; budayanya tidak. Panduan ini merangkum apa yang ingin kami sampaikan kepada seorang teman sebelum ia berangkat: bagaimana danau ini terbentuk, siapa orang Batak, cara bersikap di desa, apa yang dimakan, cara mengurus uang dan keselamatan, dan cara memuat semuanya dalam tiga, lima, atau tujuh hari.
Memahami danau
Danau Toba mengisi sebuah kaldera — kawah supervulkan yang runtuh. Letusan besar terakhirnya, sekitar 74.000 tahun silam, adalah salah satu yang terbesar yang diketahui dalam sejarah geologi mutakhir Bumi dan menyebarkan abu hingga ke India. Sesudahnya, dapur magma yang kosong runtuh, hujan mengisi cekungan itu, dan tekanan dari bawah perlahan-lahan mendorong dasar kaldera naik kembali. Dasar yang terangkat itulah Samosir.
Angka-angkanya sulit dicerna dari tepi danau: panjang danau ini sekitar 100 km dan lebarnya 30 km, luasnya lebih dari 1.100 kilometer persegi, dan kedalamannya mencapai kira-kira 500 meter. Permukaannya berada sekitar 900 meter di atas permukaan laut, itulah sebabnya udaranya segar, malamnya sejuk, dan mataharinya lebih terik daripada yang terasa. Pada 2020, Kaldera Toba diakui sebagai UNESCO Global Geopark.
Jarak dari Tuk Tuk
Sebagian besar pengunjung menginap di Tuk Tuk. Berikut perkiraan waktu dengan skuter atau mobil, sekali jalan, tanpa berhenti:
| Tempat | Dari Tuk Tuk | Waktu yang disediakan di sana | Apa isinya |
|---|---|---|---|
| Tomok | 10–15 mnt | 1–1½ jam | Makam raja Sidabutar, Sigale-gale, pasar cendera mata |
| Ambarita (Huta Siallagan) | 15 mnt | 45 mnt | Kursi batu persidangan Batak |
| Simanindo | 35–45 mnt | 1½–2 jam | Museum Huta Bolon dan pertunjukan tari |
| Pangururan & pemandian air panas | ≈ 1¼ jam | Setengah hari | Jembatan, kolam Aek Rangat, pantai Parbaba |
| Bukit Holbung & Efrata | 2–2½ jam | Setengah hari | Bukit berumput di atas danau, air terjun |
| Menara pandang Tele | ≈ 2 jam | 1 jam | Panorama dari bibir kaldera |
Di Pulau Samosir Tuk Tuk
Semenanjung santai tempat hampir semua orang menginap
Semenanjung kecil yang hijau di pesisir timur Samosir, dikelilingi satu ruas jalan berisi wisma, restoran tepi danau, dan dermaga untuk berenang. Kapal penumpang dari Parapat menurunkan Anda di dermaga hotel Anda sendiri, dan tempat lain di pulau ini cukup dijangkau dengan skuter.
Di Pulau Samosir
Di Pulau Samosir Ambarita & Huta Siallagan
Kursi batu tempat raja-raja Batak bersidang
Desa Batak bertembok yang tak jauh di utara Tuk Tuk. Di bawah sebatang pohon tua berdiri lingkaran kursi batu tempat para kepala marga Siallagan bermusyawarah dan menjatuhkan putusan, dengan satu set lagi di belakang rumah-rumah tempat — menurut cerita para pemandu — hukuman dilaksanakan.
Di Pulau Samosir Simanindo & Museum Huta Bolon
Rumah raja yang menjadi museum, dengan tarian di pagi hari
Di ujung utara pulau, bekas kediaman Raja Sidauruk kini menjadi Museum Huta Bolon: deretan elok rumah Batak yang telah dipugar, koleksi perkakas rumah tangga dan benda ritual, serta pertunjukan tari tradisional hampir setiap pagi.
Sejarah singkat
Orang Batak Toba hidup di sekeliling danau selama berabad-abad di kampung-kampung berbenteng yang dipimpin kepala marga, sebagian besar terpisah dari kesultanan-kesultanan pesisir oleh pegunungan dan oleh reputasi yang garang. Wibawa spiritual berada pada garis raja-imam, para Sisingamangaraja. Kontak dengan Eropa datang terlambat: para misionaris Jerman dari Misi Rhein, dipimpin Ludwig Ingwer Nommensen, menetap di tanah Batak pada 1860-an, dan dalam dua-tiga generasi sebagian besar orang Batak Toba telah menjadi Kristen Protestan. Tentara kolonial Belanda menyusul; raja-imam terakhir, Sisingamangaraja XII, gugur pada 1907 dan kini menjadi pahlawan nasional Indonesia.
Pariwisata datang bersama para pelancong jalur darat pada 1970-an, melonjak pada 1990-an, ambruk setelah krisis keuangan Asia, dan terus membangun diri kembali sejak itu. Pemerintah Indonesia kini mempromosikan Danau Toba sebagai salah satu destinasi prioritasnya, yang menghadirkan jalan-jalan baru, jembatan di Pangururan, dan pelabuhan yang ditingkatkan — dan, sejauh ini, keramaian yang ternyata masih sedikit.
Budaya Batak Toba secara ringkas

- Marga: setiap orang Batak termasuk dalam sebuah marga, klan patrilineal yang namanya berfungsi sebagai nama keluarga — Sidabutar, Siallagan, Sinaga, Situmorang, dan ratusan lainnya. Perkawinan dalam marga yang sama dilarang, dan dua orang yang belum saling kenal akan mengetahui hubungan kekerabatan mereka dalam hitungan menit setelah bertemu.
- Dalihan Na Tolu: “tungku berkaki tiga”, asas yang menata kehidupan sosial: hormat kepada keluarga pemberi istri, kasih kepada keluarga penerima istri, dan kesetiakawanan di antara teman semarga. Asas inilah yang menentukan siapa duduk di mana dan siapa memberi apa pada setiap pesta perkawinan dan upacara kematian.
- Rumah: rumah bolon tradisional berdiri di atas tiang, dibangun tanpa paku, di bawah atap pelana yang lebih tinggi di bagian belakang daripada di depan. Bubungannya diukir dan dicat dengan gorga berwarna merah, putih, dan hitam.
- Ulos: kain tenun tangan yang diberikan pada kelahiran, perkawinan, dan kematian. Tiap motif memiliki nama dan kesempatan yang semestinya; menyelempangkan ulos di bahu seseorang adalah sebuah berkat.
- Musik dan tari: ansambel gondang yang terdiri atas gendang bernada, gong, dan serunai mengiringi tor-tor, tarian tangan yang tertahan dan anggun. Orang Batak juga termasyhur di seluruh Indonesia sebagai penyanyi — Anda akan tahu alasannya di bar mana pun di Tuk Tuk.
- Agama: sebagian besar orang Batak Toba beragama Protestan, banyak yang menjadi jemaat gereja HKBP, dengan minoritas Katolik. Unsur-unsur agama lama bertahan dalam penghormatan kepada leluhur dan dalam makam keluarga yang megah; sebuah komunitas kecil, Parmalim, masih menganut kepercayaan asli.

Etiket
- Salam serbaguna di sini adalah “Horas!” — halo, selamat datang, semoga sehat, dan bersulang dalam satu kata. Gunakan sesering mungkin.
- Menurut ukuran Indonesia, orang Batak blak-blakan, bersuara lantang, dan jenaka. Yang terdengar seperti pertengkaran biasanya hanyalah percakapan.
- Makam ada di mana-mana, sering kali di ladang atau di samping rumah. Itu monumen keluarga: jangan memanjat atau mendudukinya, dan mintalah izin sebelum memotret upacara.
- Jika Anda diundang ke pesta perkawinan atau upacara kematian — ini memang terjadi — terimalah, berpakaianlah rapi, dan ikuti arahan tuan rumah. Pemberian uang tunai dalam amplop sudah menjadi kebiasaan.
- Pakaian renang tak masalah di dermaga; tutuplah tubuh Anda di jalan dan di desa. Minggu pagi adalah waktu ke gereja.
Makanan dan minuman

- Arsik: ikan mas danau yang dimasak perlahan hingga kering dalam bumbu kuning dari kunyit, kecombrang, dan andaliman, merica liar setempat yang menggelitik lidah seperti kerabatnya dari Sichuan.
- Naniura: ikan mentah yang “dimasak” dengan asam jeruk dan rempah — jawaban orang Batak untuk ceviche. Santaplah di tempat yang membuatnya segar.
- Ikan danau bakar: nila atau ikan mas di atas arang dengan sambal andaliman, ada di setiap menu di Tuk Tuk.
- Mie gomak: mi tebal dalam kuah santan berbumbu, favorit untuk sarapan, terutama di Balige.
- Saksang dan babi panggang: hidangan daging babi yang gurih dan berat. Masakan Batak leluasa memakai daging babi dan beberapa hidangan menggunakan darah; pelancong Muslim akan menemukan rumah makan halal, biasanya dengan papan nama yang jelas, di Parapat, Pangururan, dan sekitar Tuk Tuk.
- Minuman: kopi arabika yang istimewa dari dataran tinggi di sekeliling danau, jus segar markisa dan terung belanda, serta tuak, nira aren beralkohol ringan yang diminum di lapo-lapo desa menjelang senja. Bir mudah didapat.

Uang
Mata uangnya adalah rupiah Indonesia. Samosir berjalan dengan uang tunai: wisma kelas atas dan beberapa restoran menerima kartu, tetapi sewa skuter, kapal, donasi masuk, pasar, dan sebagian besar makanan tidak. Ada ATM di Tuk Tuk, Tomok, Ambarita, dan Pangururan, meski tidak selalu terisi atau ramah terhadap kartu asing — tariklah kebutuhan Anda di Medan atau Parapat dan anggap mesin di pulau sebagai tambahan saja. Menurut ukuran internasional, harga-harga di sini rendah; kamar sederhana di tepi danau, tiga kali makan, dan sebuah skuter per hari lebih murah daripada makan malam kelas menengah di Eropa.
Bahasa, konektivitas, dan hal-hal praktis
Orang-orang berbahasa Batak Toba di antara mereka sendiri dan berbahasa Indonesia dengan pendatang; bahasa Inggris lazim di Tuk Tuk dan tidak merata di tempat lain. Data seluler berjalan baik di sepanjang pesisir timur dan di kota-kota, kurang begitu di perbukitan. Wi-Fi sudah lumrah di wisma tetapi sering lambat. Listrik 230 V dengan steker dua pin bergaya Eropa, dan pemadaman singkat adalah bagian dari keseharian. Zona waktunya UTC+7.
Keselamatan dan kesehatan
- Jalan adalah risiko utama: sempit, berlubang di beberapa tempat, dan dipakai bersama hewan serta anak-anak. Berkendaralah pelan-pelan, sebisa mungkin jangan setelah gelap, dan selalu pakai helm.
- Air: danau ini sudah dalam hanya beberapa kayuhan dari tepi. Tetaplah dekat tepian jika Anda bukan perenang yang kuat, dan hindari berenang di dekat pelabuhan dan keramba ikan.
- Kapal: gunakan layanan terjadwal dan pastikan ada jaket pelampung; angin kencang mendadak sering terjadi pada sore hari.
- Matahari dan ketinggian: di ketinggian 900 meter kulit Anda terbakar lebih cepat daripada yang Anda kira, bahkan di bawah awan.
- Layanan kesehatan: ada klinik dan rumah sakit kecil di Pangururan, Parapat, dan Balige; untuk hal yang serius berarti harus ke Medan. Bawalah asuransi perjalanan yang menanggung evakuasi, minumlah air kemasan atau air yang disaring, dan bawa sendiri obat-obatan rutin Anda.
- Kejahatan terhadap pengunjung jarang terjadi. Akal sehat biasa tetap berlaku: kunci kamar Anda dan jangan tinggalkan barang berharga di dermaga.
Apa yang perlu dibawa
- Sweter tipis atau jaket hangat untuk malam hari, dan jas hujan kapan pun sepanjang tahun.
- Topi, kacamata hitam, dan tabir surya ber-SPF tinggi.
- Pakaian renang dan handuk cepat kering.
- Sepatu yang mencengkeram untuk air terjun dan jalur perbukitan; sandal untuk selebihnya.
- Uang tunai rupiah yang cukup, dan satu kartu bank cadangan.
- Senter atau lampu ponsel untuk saat listrik padam, dan adaptor dua pin.
- Losion antinyamuk untuk senja di tepi air.
Contoh rencana perjalanan
- Tiga hari: Hari 1 Medan ke Parapat dan menyeberang ke Tuk Tuk. Hari 2 dengan skuter ke Tomok, Ambarita, dan Simanindo; berenang saat matahari terbenam. Hari 3 pagi yang santai di danau, lalu kembali ke Medan.
- Lima hari: Hari 1 Medan ke Berastagi. Hari 2 Sibayak saat matahari terbit, Sipiso-piso, lalu turun lewat Tele ke Samosir. Hari 3 desa-desa di pesisir timur. Hari 4 pemandian air panas dan Bukit Holbung, atau cukup di dermaga saja. Hari 5 kapal ke Parapat dan jalan raya ke Medan.
- Tujuh hari: awali dengan dua malam di Bukit Lawang untuk orangutan, lalu ikuti rute lima hari — putaran klasik Sumatera Utara, yang juga diikuti paket tur yang lebih panjang.

